TEBINGTINGGI.WARTATODAY.com – Reses anggota DPRD Kota Tebingtinggi, Fadli Umam, Minggu (30/8/2025), di Aula Kelurahan Tanjung Marulak, diwarnai banjir aspirasi warga.
Mulai dari jalan rusak, drainase buruk, UMKM yang mati suri, maraknya dugaan penyalahgunaan narkoba, hingga nasib anak yatim dan anak putus sekolah, menjadi keluhan yang ditumpahkan masyarakat dalam forum terbuka tersebut.
Warga menilai kepercayaan terhadap legislatif kian menurun. Mereka menuntut agar reses tidak sebatas formalitas, melainkan menjadi ruang untuk menjawab kekecewaan rakyat dengan bukti nyata.
“Kami tidak butuh janji manis, tapi kenyataan. Kalau benar-benar diperjuangkan, kami siap mendukung,” tegas Syamsiah, salah seorang warga.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, yang menyoroti buruknya drainase dan kerusakan parah Jalan Bukit Mas dan di Jalan Bukit Barisan Kawasan Kelurahan Tanjung Marulak.
Warga mendesak agar perbaikan infrastruktur dasar menjadi perhatian prioritas. Menanggapi hal itu, Fadli Umam berjanji akan mendorong usulan tersebut dalam penganggaran tahun 2026.
Dalam dialog, Umam menegaskan kembali tiga fungsi utama DPRD, yakni legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Ia menyebut rakyat adalah “tuan” yang wajib dilayani, sementara wakil rakyat hanya pelayan yang diberi mandat. Dengan APBD mencapai Rp675 miliar, menurutnya masyarakat berhak menuntut pengelolaan anggaran yang transparan dan pro rakyat.
Untuk memperpendek jalur komunikasi, Umam menawarkan pembentukan grup WhatsApp yang berisi kepala lurah, Camat, dan warga khususnya di Dapilnya, dengan format jelas: nama, alamat, aspirasi, dan foto. “Setiap minggu aspirasi akan direkap dan disampaikan ke dinas terkait, sehingga warga bisa langsung memantau tindak lanjutnya,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan awak media usai acara Reses, Fadli Umam menegaskan komitmennya, dan di simpulkannya pada reses kali ini
banyak aspirasi dari warga Kelurahan Tanjung Marulak yang masuk, mulai dari infrastruktur, lapangan kerja, hingga penyakit masyarakat.
“Semua ini akan kita jadikan semangat baru untuk diperjuangkan, baik di legislatif maupun secara pribadi,” ucapnya.
Komunikasi dengan seluruh stakeholder, mulai dinas terkait, kecamatan, dan kelurahan akan kita bangun. Skala prioritas tentu kita tetapkan, dan yang paling mendesak seperti masalah limbah di RSS maupun di belakang Puskesmas akan segera di tanggulangi demikian ujarnya sebelum meninggalkan lokasi.
“Yang dibutuhkan warga bukan sekadar janji penyerapan aspirasi, melainkan tindak lanjut nyata agar masalah-masalah mendesak segera mendapat solusi.” ujar br Damanik warga yang tidak ingin menyebutkan namanya dan mengaku tinggal di kompleks Perumahan Sangat Sederhana. ( RSS ).