Walikota Buka Pelatihan Bencana BPBD Tebing Tinggi

Tebing Tinggi46 Dibaca

TEBINGTINGGI, WARTATODAY – Walikota Tebingtinggi H Umar Zunaidi Hasibuan memnuka kegiatan pelatihan penanggulangan bencana gempa bumi dan kebakaran di kota Tebingtinggi, yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Tebingtinggi, Selasa (30/3/2021), bertempat di Aula Hotel Amanda, Jalan Sutomo.

Dalam arahan Walikota memjelaskan, kontruksi rumah yang baik adalah memiliki 40 persen lobang angin dalam bentuk bukaan. Konstruksinya kaki pondasi harus kuat, tiang badan harus kuat, kepala harus lebih kecil dari badan.

Penyebab fatal gempa diantaranya faktor pembangunan yang buruk, konstruksi rumah tidak sesuai dengan standar teknik. “Misal atap yang paling berat, genteng, kalau kayu atap kita tidak kuat, maka paling ringan pakai baja ringan. Lalu pondasi harus dalam minimal 60 cm, kalau gempa terjadi, kolom nya patah kalau pondasi nya patah. Karena rumah kita mau tampak hebat, rumah dibeton semua, padahal itu bisa menimpa penghuni di dalamnya jika terjadi gempa, jelas Walikota.

Walikota melanjutkan terkait bencana kebakaran, selain terbakar korban sering kali meninggal karena menghirup CO2 akibat kekurangan oksigen sehingga lemas. “Antisipasinya dengan memakai masker atau kain yang sudah dibasahi dan lari mengindari api dengan posisi menundukkan kepala,” jelas Walikota.

Menurut Walikota, dalam langkah penyelamatan dahulukan orang yang selamat untuk tahu menempatkan di tempat aman. Kemudian menyelamatkan orang cidera/ sakit, segera bawa ke Rumah Sakit atau fasilitas kesehatan dan bukan mendahulukan menyelamatkan orang yang.sudah meninggal. Para peserta diharapkan mengetahui tentang ini dan mengerti tentang ini.

Kepada peserta pelatihan Walikota berpesan berlatih dengan serius tentang bagaimana teknik yang harus dikembangkan sesuai prosedur penyelamatan dan jangan membuat teori baru.

Sebelumnya, Kepala BPBD kota Tebingtinggi Wahid Sitorus menyampaikan Indonesia adalah Negara yang rawan terhadap bencana dan termasuk ke dalam 35 negara paling rawan bencana di dunia.

“Perlu ditegaskan bahwa kunci utama dalam mengurangi resiko tersebut adalah pencegahan dan mitigasi bencana. Oleh karena itu, kita harus bisa mempersiapkan diri dengan antisipasi yang betul – betul terencana dengan baik dan detail.

“Seperti yang kita laksanakan saat ini, yaitu melatih para Kepala Lingkungan se-kota Tebingtinggi, para Tagana dan Mitra Siaga Bencana kota untuk sebisa mungkin lakukan simulasi bencana secara rutin di daerah yang rawan bencana, sehingga warga semakin siap dan tangguh menghadapi bencana yang ada,” ujar Wahid. (red)

print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *